Rabu, 21 November 2018

Pasal Kontroversial Belum Beres, Pengesahan RKUHP Bisa Mundur

Reporter:
Editor:

Lestantya R. Baskoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Optimisme DPR Soal RUU KUHP Dipertanyakan

    Optimisme DPR Soal RUU KUHP Dipertanyakan

    TEMPO.CO, Jakarta- Pembahasan  Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang ditargetkan rampung sebelum 14 Februari 2018 kemungkinan besar akan mundur.  Mundurnya pembahasan akan berakibat  mundurnya pula pengesahan RKUHP menjadi  undang-undang yang ditargetkan sebelum selesainya masa persidangan III DPR. Penyebab utamanya, belum tercapainya kesepakatan antarfraksi dan juga DPR dengan pemerintah, atas sejumlah pasal dalam RKUHP –Rancangan undang-undang  yang terhitung paling lama pembahasannya dalam sejarah pembahasan RUU di DPR.

    Senin, 5 Februari, besok, misalnya, yang dijadwalkan sebagai rapat untuk pengambilan keputusan antara DPR dan Pemerintah diganti untuk  membahas pasal-pasal yang memancing perdebatan publik. Ketua Tim Pemerintah RKUHP, Enny Nurbaningsih mengakui ada sejumlah pasal dalam RKUHP ini yang harus diperbaiki. 

    Sejumlah pasal dalam RUU itu memang dinilai kontroversial, bahkan mengalami kemunduran dibanding undang-undang sebelumnya.  Pasal-pasal itu antara lain menyangkut kebebasan berpendapat, zina, dan penghinaan terhadap kepala negara. Yang terakhir ini bahkan mendapat sorotan tajam karena sebelumnya telah dihapus oleh Mahkamah Konstitusi.

    Pasal tentang penghinaan kepala negara  tercantum dalam Pasal 263. Bunyinya, “Setiap orang yang di muka umum menghina presiden atau wakil presiden dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV.”

    “Ini menunjukkan tidak taatnya penyusun RKUHP pada konsep ketatanegaraan Indonesia,” kata Miko Ginting, peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia.

    Baca: Pidana LGBT dan HAM.

    Miko Ginting menegaskan, demokratisasi hukum pidana dalam RKHUP belum tercapai. Itu tercermin dari  ancaman pidana penjara yang masih cukup tinggi dan dikedepankan dalam RKUHP. Dia menyebutkan, dalam RKUHP memang terdapat beberapa jenis pemidanaan baru, seperti pidana kerja sosial. “Namun ternyata tidak berbanding lurus dengan paradigma pemenjaraan yang masih kental dalam Rancangan KUHP,” kata Miko.

    Dengan catatan-catatan tersebut, menurut dia, PSHK mendesak Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menunda pengesahan RKUHP.

    Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) menilai RKUHP ini meguatkan posisi negara dalam berhadapan dengan individu. ICJR menunjuk sejumlah pasal yang mengindikasikan hal itu, seperti, pasal penghinaan presiden dan wakil presiden serta pasal penghinaan terhadap kekuasaan umum dan lembaga negara.

    Baca: Pasal Penghinaan Presiden Rawan Digugat.

     Pasal lain yang kontroversial adalah peluasan pengertian zina. Itu, misalnya, tercantum pada pasal 483 ayat (1) huruf e. Bunyinya, ”Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dapat dipidana dengan ancaman penjara paling lama lima tahun.” Pasal-pasal yang mengatur tentang orientasi seksual itu, “pasal LGBT,” dianggap terlalu berlebihan sekaligus berpotensi meningkatkan kriminalisasi terhadap privasi warga negara.

    Koordinator Jaringan Kerja Prolegnas Pro-Perempuan, Ratna Batara Munti, menyebut pasal-pasal  yang mengatur soal homoseksual akan semakin menyudutkan dan menstigmatisasi kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). “Setiap orang harusnya dipidana karena perbuatannya, bukan karena perbedaan kondisinya atau seksualitasnya,” kata Ratna.

    LESTANTYA R. BASKORO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.