Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Reza Indragiri Amriel: Gangguan Kejiwaan dan Pasal 44 KUHP

Reporter

image-gnews
Artis Ria Irawan menghadiri konferensi pers pembuatan film
Artis Ria Irawan menghadiri konferensi pers pembuatan film "Gila dan Jiwa" di Jakarta, 10 Februari 2014. Pada 2005 lalu, Ria Irawan berhasil dibekuk oleh petugas BNN saat menggerebek sebuah diskotek di Jakarta Selatan. Ria Irawan ditangkap bersama 8 orang selebriti Indonesia. Keterlibatan Ria Irawan dengan narkoba juga pernah terjadi pada 1993 yang lalu, dimana kawannya, Rivaldi Soekarno meninggal di rumahnya karena over dosis. TEMPO/Nurdiansah
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta -Setelah diserang secara bertubi-tubi, ustad R. Prawoto, Komandan Brigade Persatuan Islam Pusat, meninggal dunia, awal Februari lalu. Sebelumnya, KH Umar Basri, pemimpin Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Jawa Barat, dihajar bertubi-tubi hingga harus menjalani perawatan serius, akhir Januari lalu.

Dalam sebuah perbincangan, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), KH Masduki Baidlowi, menyatakan ia baru saja mengunjungi sebuah kabupaten di Jawa Timur. Di sana, kata Kiai Masduki, terjadi pencabutan sekian banyak bendera Merah Putih dan bendera NU.

Bagaimana sebenarnya kondisi kejiwaan pelaku penganiayaan para tokoh agama dan pelaku pencabutan bendera tersebut? Semuanya serupa: para pelaku disebut mengidap gangguan kejiwaan. Situasi yang membangkitkan ingatan tentang peristiwa Naga Hijau bertahun-tahun silam di Banyuwangi. Kala itu, banyak ulama NU dihabisi dengan tuduhan sebagai dukun santet. Ada sinyalemen bahwa pelakunya adalah orang-orang sakit.

Tidak semua jenis gangguan kejiwaan bisa membuat pelaku kejahatan lolos dari hukum dengan memanfaatkan Pasal 44 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pasal itu menyatakan bahwa seseorang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pidana jika cacat kejiwaan atau terganggu karena penyakit. Jadi, harus dipastikan seakurat mungkin diagnosis kejiwaan si pelaku.

Juga, andai si pelaku diketahui mempunyai gangguan kejiwaan, masih perlu dicek sejak kapan ia menderita gangguan tersebut? Jika gangguan baru muncul setelah ia melakukan aksi kejahatan, perbuatan jahatnya sesungguhnya ditampilkan saat ia masih waras. Karena itu, seharusnya tetap ada pertanggungjawaban secara pidana.

Mungkin para pelaku adalah pengidap skizofrenia. Orang-orang dengan skizofrenia diketahui memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan kekerasan ketimbang populasi umum. Kesimpulan atas hasil riset tersebut mempunyai sejumlah implikasi penting.

Pertama, semoga pelaku penganiayaan bukanlah orang skizofrenia yang dikondisikan untuk menyerang para pemuka agama, mencabuti bendera organisasi masyarakat, dan melakukan tindakan-tindakan meresahkan lainnya. Dengan asumsi bahwa perbuatan mereka murni berangkat dari ketidakwarasan, maka berbagai isu dan spekulasi di balik kejadian-kejadian di atas bisa dibendung.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kedua, apabila orang-orang mengalami gangguan jiwa diprogram untuk menjadi mesin pembunuh, mereka sebatas eksekutor di lapangan. Jauh lebih penting adalah mencari dan meminta pertanggungjawaban pihak yang menjadi otak dari operasi keblinger tersebut.

Ketiga, mereka yang menjadi sorotan pada tulisan ini bukan semata-mata sekumpulan individu yang mengidap kondisi psikologis abnormal. Di samping kemungkinan adanya abnormalitas psikologis, mereka adalah pelaku kejahatan. Atas dasar itu, penyelidikan forensik perlu lebih dikedepankan ketimbang klinis. Konkretnya, patut untuk tetap diduga bahwa mereka hanya berpura-pura sakit, bukan benar-benar sakit. Dalam banyak kasus, modus malingering sedemikian rupa dipakai sebagai cara pelaku kejahatan untuk menghindari hukuman. Malingering adalah istilah kedokteran bagi orang yang pura-pura sakit demi menghindari tanggung jawab.

Keempat, sebiadab apa pun aksi kriminalitas yang mereka lakukan, orang skizofrenia maupun pengidap tipe kelainan psikis lainnya memang tidak bisa dihukum. Tapi polisi seharusnya tetap mencari pihak-pihak yang semestinya menjaga orang-orang tersebut.

Mengapa demikian? Orang yang seharusnya menjaga mereka itu telah melanggar Pasal 491 KUHP. Pasal itu menyebutkan bahwa orang yang diwajibkan menjaga orang gila, yang berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain, tapi membiarkan dia berkeliaran tanpa dijaga dapat diancam dengan pidana denda paling banyak Rp 750 ribu.

Reza Indragiri Amriel
Alumnus Psikologi Forensik University of Melbourne.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Besok Sidang Putusan Pemuda Skizofrenia Tikam Wanita di Central Park

11 hari lalu

Ilustrasi pembunuhan dengan senjata tajam. news18.com
Besok Sidang Putusan Pemuda Skizofrenia Tikam Wanita di Central Park

PN Jakarta Barat besok menggelar sidang putusan kasus penikaman seorang wanita di Central Park dengan pelaku yang mengidap skizofrenia.


Film Dokumenter I Am: Celine Dion Merekam Perjuangan Sang Diva Hadapi Penyakit Stiff Person Syndrome

17 hari lalu

Film dokumenter I Am: Celine Dion. (dok. Prime Video)
Film Dokumenter I Am: Celine Dion Merekam Perjuangan Sang Diva Hadapi Penyakit Stiff Person Syndrome

Idap penyakit langka stiff person syndrome, penyanyi Celine Dion ceritakan perjuangannya melalui film dokumenter berjudul I Am: Celine Dion.


Polisi Hentikan Kasus Penyayatan Leher Pemuda di Aceh, Pelaku Alami Skizofrenia

18 hari lalu

Kasat Reskrim Polres Aceh Barat, Iptu Fachmi Suciandy. Foto: ANTARA/Teuku Dedi Iskandar
Polisi Hentikan Kasus Penyayatan Leher Pemuda di Aceh, Pelaku Alami Skizofrenia

Seorang warga Aceh Barat tiba-tiba menyayat leher pemuda hingga membuat korban terluka dan dirawat di rumah sakit


Cerita Ibu Terdakwa Penikaman di Central Park yang Menderita Skizofrenia: Sempat Ingin Diperiksa

23 hari lalu

Polres Metro Jakarta Barat menggelar jumpa pers ihwal kasus pembunuhan yang terjadi di kawasan Central Park, Selasa, 24 Oktober 2023. AH, pria berusia 26 tahun, menggorok leher FD, wanita berusia 44 tahun. Setelah melalui pemeriksaan medis, polisi mengungkap bahwa AH mengidap skizofrenia paranoid. TEMPO/Savero Aristia Wienanto
Cerita Ibu Terdakwa Penikaman di Central Park yang Menderita Skizofrenia: Sempat Ingin Diperiksa

Widyawati, ibu dari Andi Andoyo, terdakwa kasus penikaman seorang wanita di Central Park Mall menceritakan gejala gangguan jiwa terhadap anaknya.


Menderita Skizofrenia, Terdakwa Kasus Penikaman Wanita di Central Park Dituntut 18 Tahun Penjara

23 hari lalu

Polres Metro Jakarta Barat menggelar jumpa pers ihwal kasus pembunuhan yang terjadi di kawasan Central Park, Selasa, 24 Oktober 2023. AH, pria berusia 26 tahun, menggorok leher FD, wanita berusia 44 tahun. Setelah melalui pemeriksaan medis, polisi mengungkap bahwa AH mengidap skizofrenia paranoid. TEMPO/Savero Aristia Wienanto
Menderita Skizofrenia, Terdakwa Kasus Penikaman Wanita di Central Park Dituntut 18 Tahun Penjara

Andi Andoyo, terdakwa kasus penikaman seorang wanita di Central Park Mall, dituntut 18 tahun penjara, oleh jaksa di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.


Penderita Gangguan Kepribadian Narsistik Rentan Alami Depresi

41 hari lalu

Ilustrasi depresi. Shutterstock
Penderita Gangguan Kepribadian Narsistik Rentan Alami Depresi

Psikiater mengatakan penderita gangguan kepribadian narsistik dapat mengalami komplikasi berupa gangguan kejiwaan seperti depresi.


Dipukul dengan Paving Blok saat Tidur, Ayah Tewas Dibunuh Anak di Tangerang

17 Mei 2024

Ilustrasi pembunuhan. FOX2now.com
Dipukul dengan Paving Blok saat Tidur, Ayah Tewas Dibunuh Anak di Tangerang

Mustari, 60 tahun, mati di tangan anak kandungnya sendiri setelah mengalami luka di bagian kepala akibat dipukul menggunakan paving block di Tangerang


Ibu Pembunuh Anak di Bekasi Kembali Ditahan usai Dirawat di RSJ Grogol

8 Mei 2024

Ilustrasi pembunuhan. FOX2now.com
Ibu Pembunuh Anak di Bekasi Kembali Ditahan usai Dirawat di RSJ Grogol

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grogol menyatakan kondisi kejiwaan ibu yang bunuh anak di Bekasi sudah stabil


Ibu Bunuh Anak di Bekasi karena Bisikan Gaib, KPAI Minta Gangguan Kejiwaan Jangan Dianggap Aib

9 Maret 2024

(ki-ka) Pengurus Formas LKSA - PSAA, Jasra Putra bersama pengurus Panti Asuhan Dapur Yatim Baleendah, Devi Susiana dan Komisioner KPAI, Rita Pranawati menjelaskan foto-foto terkait penyergapan panti oleh Densus 88 Anti Teror saat konferensi pers di Kantor KPAI, Jakarta, 19 Januari 2016. TEMPO/Amston Probel
Ibu Bunuh Anak di Bekasi karena Bisikan Gaib, KPAI Minta Gangguan Kejiwaan Jangan Dianggap Aib

Kasus ibu bunuh anak di Bekasi menambah catatan anak menjadi korban saat diasuh orang dengan gangguan kejiwaan


Alasan Kuasa Hukum Siskaeee Ajukan Permohonan Tes Kejiwaan Independen ke Polisi

13 Februari 2024

Fransiska Candra Novitasari alias Siskaeee usai diperiksa oleh penyidik di Polda Metro Jaya, Senin, 25 September 2023. Tempo/M. Faiz Zaki
Alasan Kuasa Hukum Siskaeee Ajukan Permohonan Tes Kejiwaan Independen ke Polisi

Tim kuasa hukum Siskaeee mengatakan permohonan tes kejiwaan independen itu akan melibatkan psikiater dan psikolog.