Pelajaran dari Hukuman Mati Zaini Misrin

Reporter

Aktivis Buruh Migran saat melakukan aksi Mengutuk dan Menolak Hukuman Mati di depan Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta, Selasa 20 Maret 2018. TKI asal Madura, Jawa Timur, Muhammad Zaini Misrin telah dieksekusi mati Pemerintah Arab Saudi pada Minggu (18/3).

EKSEKUSI mati tanpa notifikasi terhadap Muhammad Zaini Misrin yang dilaksanakan pada 18 Maret 2018 dikecam berbagai pihak sebagai keangkuhan Kerajaan Arab Saudi, yang dikenal sebagai negara yang royal mempraktikkan hukuman mati. Di sisi lain, banyak pihak menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang lemah dan pasif dalam diplomasi untuk perlindungan buruh migran.

Keterangan pers dan kronologi yang disampaikan Kementerian Luar Negeri menunjukkan bahwa pemerintah tidak berpangku tangan dalam mengupayakan keringanan hukuman Zaini, baik melalui proses peradilan (dengan mengajukan banding dan peninjauan kembali) maupun diplomasi politik, seperti yang telah diupayakan Presiden Jokowi hingga tiga kali berturut-turut.

Namun hasilnya antiklimaks. Buruh migran Indonesia asal Bangkalan, Madura, itu tetap dihukum mati. Hal ini harus menjadi pelajaran penting dalam diplomasi Indonesia-Arab Saudi dan strategi perlindungan buruh migran Indonesia di sana.

Kisah keangkuhan Saudi mengeksekusi buruh migran tanpa notifikasi tidak hanya sekali ini. Menurut catatan Migrant CARE, dalam dekade terakhir, semua buruh migran Indonesia yang dieksekusi dilakukan tanpa notifikasi resmi. Mereka adalah Yanti Iriyanti (dieksekusi pada 2008), Ruyati (2011), serta Siti Zaenab dan Karni (2015).

Dalam kasus eksekusi mati terhadap Ruyati, Migrant CARE bersama Wahid Institute dan Kontras sempat melakukan investigasi dan eksaminasi atas proses peradilannya. Kami menemukan fakta yang sama seperti kasus Zaini, yaitu tidak adanya notifikasi awal tentang dimulainya proses penuntutan dengan ancaman hukuman mati. Selain itu, perwakilan Indonesia lamban dalam menindaklanjuti pengaduan mengenai kasus hukuman mati.

Pengaduan itu banyak. Pemerintah punya daftar nama-nama buruh migran yang terancam hukuman mati. Daftar tersebut baru tersusun dari pengaduan masyarakat melalui saluran media serta organisasi masyarakat sipil, dan dikonfirmasi oleh Satuan Tugas Anti-Hukuman Mati bentukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Daftar itu seharusnya menjadi landasan bagi pemerintah untuk memperjuangkan keringanan hukum bagi mereka, dari pembelaan di pengadilan hingga melobi otoritas Arab Saudi dan keluarga korban untuk memberikan maaf melalui mekanisme diyat. Dua buruh migran yang sudah divonis mati, yakni Darsem dan Satinah, bisa lolos dari eksekusi melalui mekanisme diyat. Namun Siti Zaenab, Karni, dan Zaini harus menjalani eksekusi seperti yang dialami oleh Ruyati.

Berulangnya eksekusi mati tanpa notifikasi seperti kasus Zaini tersebut hendaknya menjadi bahan evaluasi bahwa kasus seperti ini tidak boleh ditanggapi secara biasa. Misalnya dengan menyatakan bahwa "pemerintah menghormati dan memahami hukum setempat" tanpa mengambil langkah-langkah signifikan yang bisa memberi bobot daya tekan atas nota protes diplomatik.

Kita dicekoki mitos bahwa Kerajaan Arab Saudi tidak pernah bisa diubah atau didesak untuk menyesuaikan diri dengan norma hak asasi internasional. Mitos ini telah terbantahkan dengan adanya beberapa perubahan di sana, seperti perempuan mulai diperbolehkan menyetir mobil dan penangkapan sejumlah pangeran yang diduga korupsi.

Arab Saudi sekarang adalah anggota Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa sampai 2019 dan pada Juli nanti harus memasukkan laporan kinerja penegakan hak asasinya yang akan dibahas melalui mekanisme Tinjauan Periodik Universal (Universal Periodic Review).

Kesempatan ini bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempertanyakan komitmen Saudi terhadap hak asasi. Indonesia harus berani menjadi pelopor untuk mempertanyakan masalah eksekusi mati terhadap warga negara asing di sana. Namun kepeloporan ini harus diimbangi dengan komitmen pemerintah untuk melakukan moratorium hukuman mati di dalam negeri. Hal ini akan menjadi landasan moral politik diplomasi Indonesia dalam membela buruh migran yang terancam hukuman mati, tidak hanya di Saudi tapi juga di negara-negara lain.

Wahyu Susilo
Direktur Eksekutif Migrant CARE






Ferdy Sambo Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana dan Hukuman Mati, Begini Pengertiannya

3 hari lalu

Ferdy Sambo Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana dan Hukuman Mati, Begini Pengertiannya

Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka, dijerat pasal pembunuhan berencana dan terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara bahkan hukuman mati.


Ada 6 Orang di TKP Penembakan Brigadir J: Baru Ferdy Sambo dan 3 Orang Jadi Tersangka

3 hari lalu

Ada 6 Orang di TKP Penembakan Brigadir J: Baru Ferdy Sambo dan 3 Orang Jadi Tersangka

Tersangka kasus pembunuhan Brigadir J, yaitu Irjen Ferdy Sambo, Bripka RR, Bhadara E dan sopir Ferdy, K berpeluang dijerat pasal berlapis.


Begini Rincian Pasal Pembunuhan Berencana yang Ancam Ferdy Sambo cs

4 hari lalu

Begini Rincian Pasal Pembunuhan Berencana yang Ancam Ferdy Sambo cs

Ferdy Sambo, tersangka pembunuhan Brigadir J, dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56.


Motif Penembakan Brigadir J Belum Diungkap, Kapolri Jelaskan Alasannya

4 hari lalu

Motif Penembakan Brigadir J Belum Diungkap, Kapolri Jelaskan Alasannya

Polri menetapkan 4 tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir J, yakni Bharada E, Brigadir RR, Kuwat dan Irjen Ferdy Sambo


Apa Itu Uji Balistik?

8 hari lalu

Apa Itu Uji Balistik?

Uji balistik merupakan hal penting untuk menyelidiki kematian Brigadir J. Lalu, apa itu uji balistik?


6 Tahun Lalu, Hukuman Mati Freddy Budiman Dalang Pabrik Sabu dalam LP Cipinang

16 hari lalu

6 Tahun Lalu, Hukuman Mati Freddy Budiman Dalang Pabrik Sabu dalam LP Cipinang

Tepat 6 tahun lalu, Freddy Budiman jalani hukuman mati di Lapangan Tembak Panaluan, Nusakambangan. Ia terlibat dalam berbagai kasus peredaran narkoba.


Retno Marsudi Minta ASEAN Evaluasi Lagi 5PC setelah Myanmar Eksekusi Mati Aktivis

17 hari lalu

Retno Marsudi Minta ASEAN Evaluasi Lagi 5PC setelah Myanmar Eksekusi Mati Aktivis

Retno Marsudi mengusulkan agar ASEAN mengevaluasi Konsensus Lima Poin (5PC) menyusul kebijakannya mengeksekusi mati empat aktivis pro-demokrasi baru-baru ini


Militer Myanmar Sebut Eksekusi Mati Aktivis Keadilan Bagi Rakyat

19 hari lalu

Militer Myanmar Sebut Eksekusi Mati Aktivis Keadilan Bagi Rakyat

Militer Myanmar menegaskan putusan eksekusi mati empat aktivis demokrasi yang dijalankannya sebagai sebuah keadilan.


4 Aktivis Pro-Demokrasi Dieksekusi Mati, ASEAN Sebut Myanmar Tercela

19 hari lalu

4 Aktivis Pro-Demokrasi Dieksekusi Mati, ASEAN Sebut Myanmar Tercela

ASEAN mengecam keras Myanmar karena telah memberlakuan eksekusi mati terhadap empat aktivis demokrasi.


Kasus Penembakan Istri Anggota TNI, Panglima TNI Andika Perkasa Sebut Pasal Hukuman Mati

19 hari lalu

Kasus Penembakan Istri Anggota TNI, Panglima TNI Andika Perkasa Sebut Pasal Hukuman Mati

Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa mendorong pidana atau hukuman mati kasus penembakan istri anggota TNI, sesuai Pasal 340 KUHP. Ini ketentuannya.